Tuhan tau apa yang kita butuhkan , bukan apa yang kita inginkan

.
RSS

bocah kerdil














Langit beriak gelap

Gumpalan awan hitam menyeruak
Menyelimuti cahaya kristal
Angkasa mengaung
Memberi peringatan

Menukik kedaratan
Di pemukiman kumuh
pelantaran kali berwarna gelap
Tampak bocah kerdil keluar dari tumpukan kardus
Tempat dimana ia melepas kepenatan

Tangannya mengepal sesuatu
Tinggi benda itu hampir setara dengannya
Ia berlari kencang
Menyusup disela kardus-kardus
Sendal jepitnya menepak gaduh
Membuyarkan lamunan tikus kuyu
Induk ayam berbulu lusuh berkotek riuh memanggil anaknya
Bertanda sebentar lagi hujan turun

Kakinya terhenti dihalte dekat lampu merah
Percikan kilat disertai bunyi petir silih berganti
Baginya
Percikan kilat adalah kembang api dimalam takbiran
Dan ledakan petir adalah petasan menyambut pergantian tahun
Ia begitu gembira.
Terpancar dari bibirnya yang kian melengkung warna warni pelangi

Ia menatap ke langit
Menunggu bulir kesegaran akan membasuhkerongkongannya
Lambungnya bergoyang
mengusir kejenuhan menunggu beberapa butir nasi
Sedari pagi perut kempisnya tak tersentuh makanan apapun

Orang- yang lalu lalang kelabakan
Berlarian mencari tempat berteduh
Tangan sebesar lidi mengepakkan benda yang sedari tadi digenggamnya
Prak...
Benda kuncup kini mengembang senada dengan
Senyumnya yang makin merekah
Ditengah guyuran hujan
Ia menyuguhkan jasa pada khalayak

Setengah jam berlalu
Tak satupun orang menggunakan benda kuncupnya
Gigitan dingin menusuk pembuluh
Tubuhnya makin menciut
Bibir pucat pasi bergetar kedinginan
Lambungnya makin kalut
Meronta-ronta
Menginyam gulungan usus kisut
Perihnya tak terkira

Ia tak sedikitpun gentar
Dari sebrang jalan tampak
Seorang wanita muda berbalut seragam coklat melambaikan tangan kearahnya
Saat itu pula bocah kerdil berlarian mengijak genangan air yang mulai meluas
Ia tak pedulikan sekitarnya
Matanya tertuju pada wanita itu
Tubuh mungil itu
Menyusup disela kendaraan yang lalu lalang

Dan...
secepat kilat sebuah benda besi raksasa berlari kencang ke arahnya
sehelai kapas berbalut lumpur terhempas keujung jalan
Benda kuncup terombang-ambing diterpa angin
genangan hujan memekik histeris

darah segar larut dalam genangan
bau anyir menguap
disudut jalan tamapk seonggok daging sudah tak bernyawa

hujan reda
disela awan mengempul mozaik warna
indah tak terkira
kini bocah kerdil tengah menari disela mozaik
beayun-ayun di batang awan
Langit tertawa terpingkal melihat tingkahnya
Cahaya kristal berusaha menghangatkan tubuhnya
Senyumnya tetap merekah
Apapun yan terjadi ia akan tersenyum


***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Followers