Tuhan tau apa yang kita butuhkan , bukan apa yang kita inginkan

.
RSS

bisikan bintang

Siang itu tampak seorang anak berseragam biru putih berlari sambil tersisak – isak.

Didepan sebuah rumah sederhana ia menghentikan langkah.

Tok..tok..tok...

Tok..tok..tok...

“Ibu...buka pintu nya!!!!!!!“

Ia berteriak begitu kencang.

Tak lama muncullah seorang ibu tua membukakan pintu.

“Ada apa toh ndok?? Pulang – pulang bukan nya baca salam kok yo teriak-teriak?

Ndak enak didengar tetangga“.

Membating tas lalu ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Ia hanya diam.

Raut wajahnya makin kelabu.

Sang ibu menghampiri duduk dipinggir kasur.

“Sebenarnya ada apa ndok?ndak bae kamu nangis dan muka ditekuk begitu, kamu puasa kan?”

“Aku kesel bu, lebaran tinggal beberapa hari lagi tapi aku belum juga dibelikan baju baru.

Teman - teman ku bercerita tentang baju-baju mereka, semuanya bagus-bagus sedangkan aku? Hanya menyendiri karena tak ada bahan cerita. Kenapa bapak tidak pernah mengerti!!!!”.

Mengelus rambutnya dengan lembut.

“Ndok, kamu jangan salah kan bapak. Bapak sudah berusaha, tapi kamu kan tau sejak bapak kena PHK ia hanya seorang kuli yang di diupah tak seberapa, untuk makan saja kita sudah pas-pasan”. Bapak kan sudah janji hari ini bapak gajian, pasti nanti kamu akan dibelikan baju baru.

“tar.. tari..”

Anak itu ter lelap dalam tangisnya.

****

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

“Bapak sudah pulang, kenapa terlambat pak?apa bapak sudah berbuka?”

Laki-laki tua itu tersenyum. Wajahnya yang berkeriput tampak begitu lelah.

Tangan nya meraih secangkir kopi pahit(karena tidak ada gula) sudah dingin karena telah dibuat sejak burbuka tadi. tampak jari-jari yang penuh garis –garis luka, tubuh yang dibalut kulit yang hitam legam penuh debu.

“Sudah tadi bu“.Meneguk kopi.

Menaruh lagi kecangkir sambil menghela nafas yang tampak tak beraturan. Tenggorokannya seakan meraung karena tiap hari menelan kopi yang rasanya tak lah enak.

“Dijalan bapak bertemu seorang anak terjatuh dari sepeda motor, lalu bapak antar kerumah sakit.

Diam sejenak.

“Maaf bu, upah minggu ini jadi tak ada sisa.“

Sang ibu tesentak.

Ia membayangkan betapa kecewa nya sang buah hati nya jika mengetahui hal ini.

Melihat isak-tangis putrinya.

Tiba-tiba pandangannya kabur.

“Ibu,kenapa?”

“Kepala ibu sakit sekali pak,rasanya semuanya berputar-putar”.

“Pasti ibu belum makan obat”.

“Ia pak, sudah dua hari yang lalu habis”.

Memapah sang istri kekabin.

“Maafkan bapak ya bu, bapak janji minggu depan setelah gajian bapak akan belikan”

“Tidak pak, bapak melupakan sesuatu”

“Apa?”

“Bapak berjanji membelikan tari baju lebaran, tadi ia pulang sekolah sambil menangis dan bercerita pada ibu, lebaran yang tinggal beberapa hari lagi, sedangkan bapak gajian seminggu lagi. Bagaimana ini pak?”

“Sekarang tari dimana bu?”

“Dari tadi tidak mau keluar kamar, berbuka pun tidak”.

Wajahnya tertekuk lesu.

“ALLAHUAKBAR ALLHUAKBAR….”

Terdengar azan Isya mendayu.

Laki-laki lapuk itu Mengambil baju koko yang berwarna butih bercak merah, biru , kuning, hijau(terkena luntur) sudah lusuh, dibeberapa sudut ada sobekan kecil karena keseringan dicuci.

Yah. Hanya itu yang ia punya. Kopiah hitam yang juga telah berganti warna.

Mendekati istrinya yang tengah berbaring.

“Bu, bapak pergi taraweh dulu ya?“.

Mengangguk.

****

Musollah tak begitu besar yang sedari tadi disesak umat untuk beribadah , sekarang telah lengang. Solat tarweh telah selasai.

Tinggal seseorang tengah khusu berzikir dan berdo’a.

Ya. Laki-laki usang itu.

Ya ALLAH, ampuni dosa hamba, yang telah menganiaya istri dan anak hamba satu-satunya,

hamba tak mampu membuat mereka bahagia, membuat mereka tersenyum penuh canda.“

“Ya ALLAH, ampuni hamba tak berpikir panjang ketika membawa anak itu kerumah sakit, tampa berpikir dua wanita yang tengah mengharapkan rezeki yang engkau berikan.“

“Ya ALLAH berikan aku keikhlasan menerima cobaan mu,aku yakin aku engkau akan mengabulkan do’a ku. Tunjukkan aku jalan yang lurus.

“Robbana Atina fiddunya Hasannah Wafilakhiroti Hasannah Wakina’aza bannar“.

****

Tok..tok..tok..

Tampak seorang laki-laki berkumis bertubuh tambun dibumbuhi tampang agak seram.

Dengan suara serak becek.

“Masuk.“

“Maaf pak“.

“Ada apa?“ sambil memelintir kumisnya.

“Boleh saya duduk“.

“Banyak tingkah, apa mau mu?“.

“aa...nuu pak..“

“Sa…yaaa..“

“Cepatlah kau bicara ! aku tak punya banyak waktu !“.

“Begini pak, saya ingin pinjam uang barang seratus ribu saja”.

Melotot. Seakan biji matanya berpiknik kemulutnya.

“Apah???baru kemaren kau menerima upah sekarang minta ngutang?“.

“Memangnya kau siapa?seorang kuli junior saja sudah bertingkah sok akrab begini“.

“Taa pii,, pak.. ssyaa...“

Keluar..!!! !

“Pak..saya mohon..“

“Keluar kata ku!!!

Mendorong laki -laki tua tak bertenaga itu hingga terpental ke tumpukan seng.

Lengan kirinya terkena ujung seng. Darah segar mengalir.

Ia tak peduli. Ia merangkak kearah mandor kumisan itu.

Ia bersujud dikakinya.

“Heh...apa yang kau buat? Pergi kata ku. Kalau kau tak beranjak aku pecat kau baru tau rasa!!“

“Mau aku pecat!!!!“

“jajajangan pakk..“

“Ya sudah tunggu apa lagi!“

Mengangguk.berdiri dan melangkah keluar.

Ia kembali bekerja. Tumpukan batu telah menunggunya.

Terik matahari membuat kulitnya hitam legam. Hujan membuat tubuh mungilnya menggigil makin ciut. Debu sewaktu memecahkan batu membuat oksigen tak nyaman untuk dihirup Pecahan nya yang runcing menikam kulit tipisnya. Pertemuan linggis dan batu menghasilkan nada yang membuat kuping pengang. Ia tak merasakan apa – apa. Dari pagi hingga petang demi mendapat uang sepuluh ribu saja. Ya. Hanya sepuluh ribu per hari. Yang dibayar tiap minggu nya kadang dipotong untuk makan siang. Dengan tenaga tak seberapa ia kerahkan demi anak dan istrinya.

Punggung berbalut kulit tipis siap mengangkut bongkahan batu tadi.

****

“Apa?“

“Maaf nak. Bapak sudah berusaha meminjam kepada bos bapak, tapi tidak berhasil.“

“Bapak jahat, enggak pernah becus! Kan bisa diganti pas gajian !

“Lagian pake segala ngebantuin orang. Jelas-jelas kita juga susah. Bapak engga mikir apa? Ibu juga lagi sakit. Butuh obat.hah!,Bapak payah!! ...!!!“

Brukkggh...

Membanting pintu.

Uhuk uhuk..

“Sudahlah pak, jangan terlalu dipikirkan perkataan tari. Dia lagi emosi, dia pasti mengerti kondisi kita pak“.

Ini semua salah bapak.salah bapak bu !!!

Andai saja bapak membiarkan anak itu.

“Istighfar pak… Bapak telah melakukan hal yang benar. ALLAH pasti punya rencana lain.

Kita tidak akan pernah tau rencana indah yang telah disiapkan untuk kita.“

“Terimakasih bu“.

****

Pasar begitu ramai sekali. Orang-orang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut hari nan Fitri. Ketupat,opor ayam, kue-kue, dan pernak pernik lainnya.

Mata nya tertuju pada sebuah baju muslim.

Warna hijau bercorak pink dengan kupu-kupu didada.

Manis sekali jika anak ku yang memakainya. Bisiknya.

Ia pun berbaur diantara sesak orang yang sedang asik berbelanja.

Sreeeet...

Dzzzinkkk......

“Ehhh... MmmMMaalliiiiiinggg“

Sang pemilik toko berteriak.

Diantara mereka bertanya. „“Mana mba?“

“Gue ngga terlalu meratiin pokonya dia pake kopiah terus lari kesono noh.“

Menunjuk kearah jalan keluar pasar.

Laki-laki itu lari sekuat tenaga mencari sela diantara khalayak. Nafasnya tak beraturan. Ia berlari menuju jalan raya.

Tiba-tiba.

Sebuah sedan putih melintas. Begitu cepat hingga tubuh kurus nya terpelating.

Kepalanya terbentur pinggir trotoar, Baju kupu-kupu pun terbang dan terombang ambing diantara kendaraan yang lalu lalang.

Penglihatannya semakin buram.

Orang-orang berkerumunan ingin melihat kondisi laki-laki malang itu.

Sudah matikah?atau pingsan?

Seorang ibu berdandan menor keluar dari sedan putih itu bersama putranya yang tengah diperban.

“Kamu sih bandeh... udah mami bilang kamu belum bisa nyetir! Liat tangan kamu masih diperban gitu juga..!!“

Tak acuh. Berlari ke arah kerumunan.

“Inikan... ayo cepat bawa ke mobil, angkat sekarang juga!!!“ teriak pemuda itu.

Beberapa orang mengangkat tubuh pak tua itu. Dua orang saja sudah cukup untuk menggotong tubuh nya yang memang sangat lansing.

Mobil melaju dengan kencang.

****

„“diimaana aku..“

„“Akhirnya bapak sadar juga. Bapak masih ingat saya“

„“kaamu..“

„“Saya anak yang bapak tolong beberapa hari yang lalu“.

„“Kenapa kamu ada disini?saya kenapa?“.

„“Maaf pak, saya telah menabrak bapak, memang ini kecerobohan saya . Saya sudah dilarang oleh ibu saya tapi saya tetap bandel”.

“Nak,bapak boleh minta sesuatu?”.

“Apa pak?sebutkan saja saya akan penuhi apa yang bapak mau. Saya janji”.

“Jika bapak meninggal tolong jaga istri dan anak bapak, jangan terlantarkan mereka.”

Dengan linangan airmata ia mengucapkan kalimah syahadat.

Ia pun pergi dengan tenang.

****

Pemuda itu menepati janjinya. Ia mengajak ibu surti dan tari tinggal dirumahnya. Ia telah anggap seperti keluarganya sendiri.

Mereka sangat bahagia. Senyum terus terpancar diwajah mereka. Tentu saja kebahagiaan mereka tidak lengkap, karena tak ada lagi seorang laki-laki tangguh yang telah membuat senyum itu ada.

Tari teringat semua perkataan yang ia lontarkaan kepada laki-laki penyabar itu.

Laki-laki yang berjuang, berkorban hingga akhir hayat demi kebahagiaan nya.

Takbir berkumandan.

Malam yang syahdu, penuh kemenangan. langit dipenuhi kembang api dengan segala keindahannya.

Diatas sana. Tampak bintang tengah tersenyum sambil berbisik

“TUHAN, izin kan aku tetap bercahaya walaupun aku tak bersuara“

Cerita ini terinspirasi dari

>Sebuah Catatan sahabat

>Mengenang 6 tahun kepergian papa ku tercinta yang bertepatan pada hari ini.

Semoga cerita ini bermamfaat dan dapat diambil hikmahnya.

Maaf ya buru – buru ..

jadi ending nya jelek bgt.hihihi butuh revisi lagi lagi dan lagi.Perlu belajar lagi lagi dan lagi.( asal jgn ampe gila)

Ternyata nulis itu ga gampang , tapi ga ada salahnya buat mencoba *_^

Pesan : Bagi siapa yang masih diberi kesempatan berkumpul dengan orang tua (ayah) pergunakan sebaik mungkin, apapun yang beliau katakan dan lakukan semata-mata untuk kebahagiaan mu(anaknya).

Jangan biar kan ia menitikkan airmata karena tingkah buruk mu,

Jangan biarkan kesadaran mu timbul setelah ia pergi untuk selamanya.(seperti ku)

Ayo... rangkul beliau. Katakan “Aku sangat menyanyagi mu Ayah“.

Semoga papa bisa denger. Maafkan aku Karena tak pernah mengatakan itu padamu.

Tak menjadi anak yang berbakti.. :’(

Tak sempat membahagiakan mu seperti kebahagiaan yang kau berikan dari aku dilahirkan hingga akhir hidupmu.

Tak memberikan kasih sayang seperti yang kau berikan pada ku.

Tak pernah memeluk mu dan mengatakan betapa penting dan berharganya diri mu.

Papa...

Semoga disana papa bahagia dan mendapatkan tempat disisi ALLAH.

AMIN.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Followers