Aku menapaki jalan setapak. Sekeliling terhampar luas lalang dan rerumputan liar. Tanah basah sisa hujan semaleman. Tak lama aku tiba di deretan pemakaman yang tersusun rapih.
Dideretan itu, papa dan di sebelahnya nenek. Orang yang ku sayangi... Aku mematung. entahlah,,, pikiran ku melayang-layang, mengendap di gelantungan awan kelabu.
Dua tahun yang lalu
Aku sibuk mengemasi barang-barang. menyusun rapi dalam tas yang di belikan ibu khusus untukku pergi esok lusa.
Nenek duduk di depan pintu kamar, menatapku sinis.
"Nek, nenek kenapa menatapku seperti itu?"
"Mengapa harus jauh-jauh ke negeri orang? memangnya tidak ada sekolah di sini?" Bibirnya bergetar. Itu tandanya ia marah padaku.
Aku dekati nenek, duduk bersila di depannya.
"Di sini memang tidak ada nek, kalaupun ada juga jauh, tidak mungkin juga pulang pergi setiap hari". Aku berusaha meyakinkan nenek. tampaknya kemarahan nenek tidak juga reda.
"Kamu tega membiarkan kami yang baru saja kehilangan papamu, sekarang kau juga pergi ?" Nadanya meninggi, kerut di wajahnya semakin terlihat jelas. Di sela urat-urat tegang tersembur air mata. Akupun tak kuasa menahan gemuruh yang ku tahan sejak tadi. aku menumpahkan gerimis di pelukan nenek.
"Pergilah, tapi kau tidak akan lagi melihat nenek selamanya".
Aku menangis meraung sejadinya.
Hari yang menyedihkan itupun tiba. Pagi ini nenek meminta adik mengambilkan air hangat untuk mandi. Ia melap tubuhnya sendiri. Biasanya nenek memintaku melap badannya yang katanya terasa gatal karena terlalu lama bergolek di kamar.
Ya, tiga tahun terakhir nenek tidak lagi mampu berjalan.
Ia mengenakan baju kembang-kembang berwarna dasar hitam dan kembang berwarna orange dan biru. Baju favoritnya. Ia lumuri wajahnya dengan bedak setebal mungkin. Mungkin ia ingin menutupi air mata yang sewaktu-waktu mengalir tampa ia sadari.
Setengah depalan nenek masih di kamar, duduk melamun sembari memegang tasbih.
Aku hampiri dengan perasaan tak karuan. Nenek masih marah padaku. Iapun belum merelakan aku pergi.
Tampa memandangi wajahku, ia berkata "Pergilah,,,"
Aku ciumi tanganya ku peluk sekali lagi.
"Pergilah, tapi kau tidak akan lagi melihat nenek selamanya". kata-kata itu selalu terniang mengaduk lukaku menjadi parah.
Tak lama nenek mengeluarkan handuk kecil yang ia rajut sendiri.
Handuk berwarna biru dengan bunga matahari di tengahnya.
*** Nek,, maafin nara, nggak mau dengerin omongan nenek. Coba saja dulu Nara tidak pergi. Nara ingin memamfaatkan waktu yana singkat itu untuk selalu menemani nenek. Memandikan nenek, menyuapi nenek, memijit nenek, mendengarkan ocehan nenek yang tiada putus dan jika nara berbicara nenek nggak bisa dengar. Walapun dulu nara sering protes karena nenek seperti anak kecil. Nara tetep sayang nenek... Rindu semua tentang nenek.
---
Tiba-tiba saja seorang wanita bertubuh tinggi berbalut baju putih berdiri dihadapanku. Wajahnya berseri. Senyumnya tak henti menghiasi bibirnya, sekilas mirip denganku, tapi ia cantik luar biasa.
"Kamu siapa?"
"Nara, kamu lupa?"
"Lupa??"
"Sejak kapan kamu tiba? nenek rindu kamu,,,"
"NENEK!!!..." aku langsung memeluk erat wanita itu.
"Nenek juga rindu kamu.."
"kamu sudah besar ya,,,"
"Tidak, aku masih nara si kecil yang nakal,,,
Nek,, nara ingin tidur di dekat nenek, boleh ya,,"
"Tentu saja,,, "
"Sambil mengusap rambut nara ya,,,"
"Iya..."
"Asiikk,,,"
***
"Ra,,, akhirnya kamu sadar juga nak"
"Nara kenapa ma?"
"Kamu pingsan di makam nenek, untung adikmu segera menyusul kesana, lagian kenapa tadi nggak mau mama temenin sih?"
Ma,,, andai mama tau, nara ingin berdua saja dengan nenek. Nara ingin tidur besisihan dengan nenek. Dan nenek mengelus rambut nara sambil bercerita hingga nara tidur pulas. Seperti dulu..
sleep in the cemetery
rocking chair & knitted

Ku pandangi kursi rotan berwarna putih. Kursi yang ku beli beberapa waktu lalu.
Nek, ini ku hadiah kan untukmu, semoga kamu suka ya?
***
Lima tahun yang lalu
"Nenek kenapa?"
"Nenek pengen kursi goyang"
"Kursi goyang??"
"ia, nenek ingin menyulam di atas kursi goyang.."
Aku tertawa mendengar permintaan nenek.
"Nanti ya nek, kalo nara udah kerja nara beliin buat nenek.."
kataku kemudian.
"Sekarang kamu kelas berapa?"
"Dua SMP"
"Berapa tahun lagi kamu bekerja?"
"Mungkin sepuluh tahun lagi nek"
Nenek terdiam, memandangi burung yang berarak petang.
"Mungkin saat itu nenek sudah tidak ada lagi.."
Akupun terdiam.
***
Nek, nara ternyata bekerja lebih cepat dari perkiraan nara dulu. Lima tahun, tapi tetap saja nenek tidak menunggu saat ini tiba. Nenek pergi tampa mau semenit saja duduk di kursi ini. Nek, nara ingin dibuatkan lagi handuk kecil bermotif bunga, nara ingin di ajarkan merajut. Menatap matahari terbenam dan menunggu azan tiba.
Nek,,, nara rindu nenek. Senyum nenek, marahnya nenek, semua nasehat nenek....
Nara kangen...
***
Aku masih tertegun menatap kursi rotan. Berharap nenek akan duduk di sini setiap harinya. Menyambutku pulang bekerja, mencium tangannya dan memeluk tubuhnya yang mungil.
Nenek....
...tengoklah...
dan kejarlah akhiratmu seakan kau mati esok"
Di malam yang mencekam
pemuda itu terus menghisap cerutunya.
Mulutnya menganga setiap kali memuntahkan gombolan udara tembakau
Menghiraukan kicauan burung nan syahdu
Mengindahkan pituah si hang
Menepis kesegaran embun pagi
Otak karatnya mencoba mengulik memori yang tersisa
Kata yang pernah terlontar pada sang ilalang
“lihatlah ilalang, suatu saat aku akan merubah semuanya.
Aku buang cerutu , keunikan dan semua larangan kuno mu
Sekarang biarkan aku seperti apa yang aku mau, hidup ku kebahagian ku sesuka apa yang aku mau. Aku masih muda . tubuh ku kuat taka da tandingan.dan masih banyak kesempatan untuk ku.
Jagan pernah usik!! Bentaknya “
Denga lembut ilalang berdesis “tapi waktu mu hanya sebentar pemuda...“
dengan penuh amarah ia cabut ilalang hingga akar-akarnya.
“Selamat tinggal“... ilalang terkulai tak bernyawa....
Lamunannya tersentak
Ada cahaya putih merasuk dipola matanya
Tak alam terlihat sosok laki-laki baya memakai tongkat, baju compang camping, kulit hitam legam penuh lipatan kusut
Berjenggot dan kumis putih tengah terbatuk – batuk....
Huk huk...
“boleh aku minta cerutu mu?“
“siapa kau?“
“bercerminlah, maka kau akan tau siapa aku“
Cahaya itu menghilang sekejap mata.
Tampa ragu ia mengambil cermin
Terlihat jelas disana sosok laki-laki baya tadi tengah meniru gerakan nya
“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”
Seperti apakah kedewasaan itu ? coba klik DISINI, sedikit membantu(saya) yang masih jauh dari titik kedewasaan.
***

Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya. Kendaraan berduyun menapaki jalanan. Pandanganku lagi-lagi tertuju padanya. Laki-laki itu...
Dengan tubuh tirus, gelap, bersimbah keringat ia terus berjalan tertatih mendorong gerobak yang berisi tumpukan pisang, mungkin beratnya berlipat-lipat jauh lebih berat dibanding gumpalan tubuhnya. Matanya sayu uratnya tampak mengeras. Sudah pasti benda itu sangat sangat berat. Perjalanan ku terhenti ia pun berlalu. Tapi bayangannya masih terniang menimbulkan tanda tanya.
Seorang yang telah mencapai usia senja mengapa masih saja harus bekerja sekeras itu? kemana anak-anaknya? dimana saudaranya? Rasanya tidak adil, sedang yang muda berleha-leha, berpangku tangan, luntang-lantung tak jelas. Kemana keadilan?
Pernah seseorang berkata "Tidak perlu berkata begitu, mereka sedang menjalani takdirnya sama seperti kita juga tengah menjalani takdir Tuhan".
Entahlah... Mungkin kepekaan saya saja yang berlebihan, tampa tau harus berbuat apa untuk mereka.
Kemarin dosen saya bercerita tentang petinggi negara yang telah menghabiskan triliunan rupiah untuk mendirikan sebuah bangunan(yang nantinya juga tak akan bermamfaat untuk kepentingan umum) yang sampe sekarangpun belum menampaki hasil. Dari pada bikin gedung bertingkat2 itu mending diriin panti asuhan dan panti jompo. Berapa banyak anak-anak yang terlantar dijalanan tampa mendapat sebuah kelayakan hidup? berapa banyak lagi keringat-keringat si tua itu berserakan?
Impian saya suatu saat jika Allah memberikan saya kesempatan saya ingin mendirikan panti asuhan dan panti jompo. Semoga do'a-do'a saya didengar dan suatu hari saat dikabulkan :) Amin...
Blue pearl

Kau adalah sebongkah mutiara biru yang terselip di dasar laut
Terkunci rapat dalam penjara diikat erat oleh para penjagal
ku rangkai sebuah kalung tampa liontin dengan temali kepercayaan
ku gantung di relung jiwa
Saat kelopak mata ku adu perlahan
ku merasakan kehadiran mu begitu lekat
kita hanya dipisahkan sebatang angin senja
mendekap dalam buih ombak
Seperdetik kemudian semua kembali hampa
Yang tersisa hanya serakan potongan puzzle dilaut lepas
Akan ku susun potongan hingga mejadi satu kesatuan yang kohera
Aku yakin, suatu saat ku temukan dimana mutiaraku berada
Akan ku taruh di kalung jiwa
abadi, selamanya....
*****
note : puisi ini diikut sertakan dalam sebuah kontes, karena penasaran dengan hadiahnya , yaitu buku berjudul "loves indigo". dari ngebaca sinopsis jadi ingin membacanya,,berhubung belum ada budget buat beli buku, jadinya mau yg gratisan aja,,heheh... semoga menang.. :')
my SOUL (sepatu)
be happy *_*
Tetap berlari dan berlari
Walau ribuan ujian terus menyayat tubuh ku yang telah compang camping
Tapi hati ku takkan mudah getas
Kadang lelah merajai fikiranku
Tapi api semangat melebur habis tanpa sisa
Tungkai kakiku tetap gegap melangkah
Seiring desah berserah
Semangatku
Semangat para petarung sejati
Yang tak mematikan harapan dan kemungkinan walau sekecil apapun
Dengan terus berbaik sangka pada Tuhan
Ikhtiarku
Ikhtiar para pengembara
Yang tak mudah melemas
Yang tak mudah memelas
Tak mudah melunglai sebelum batas
Ikhlasku
Ikhlas para pembelajar
Yang tak bosan mengarahkan hati
Pada penghambaan sejati
Cukup Allah
sebagai penolongku...
***
SEMANGAT, tidak mengenal usia, tidak mengenal ras, tidak mengenal status, tidak mengenal waktu, tidak mengenal perbedaan,
#ketika seseorang menegur mu karena kesalaham mu, walaupun itu tak sepenuhnya kesalahanmu. disanlah mulai melapangkan dada menerima sisi positif dan buang sisi negatif. berbaik sangka itu lebih baik, mungkin memang itu karena kelalaian kita. Perbaiki untuk waktu berikutnya.
#ketika pekerjaanmu tak dihargai. teruslah berusaha dengan maksimal. Buang semua sifat yang menghapus arti keiklasan. Bekerja itu merupakan salah satu ibadah kepada TUHAN, bukan untuk mendapat pengakuan dari manusia.
#Ketika lelah mulai menggerogoti peredaran darahmu. Teruslah katakan, "Aku tidak lelah, aku masih kuat, selama aku masih bernafas dan percayakan kekuasaan TUHAN akan mengatur dengan sebaik-baiknya". Ingatlah apa yang kita pikirkan mempengaruhi kondisi fisik. Katakan Aku berbahagia, maka bibirmu akan tersenyum dengan sendirinya.
#Ketika kelemahan dan kekuranganmu membuat kamu merasa tak berguna. Saat itulah libatkan rasa syukur kedalamnya. ingat TUHAN menciptakan segala sesuatu berpasangan. jika kau diberi kekurangan tampa kita sadari TUHAN telah menyertakan kelebihan.
#Ketika perut laperr... ya makanlah,,, Ga punya duit? bawa tidur aja bisa kaleee.. kali aja mimpi makan-makan sama pak bondan *maknyooss* :D
^^^^^^^^^^^^^^^^SEMANGAT^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
kotak bisu

Sebuah nada mengalun direlung indera. Seketika ku hentikan fungsi organ untuk detik berikutnya
Sejurus ku alihkan semua kendali pada sebuah kotak hampa.
Ku mainkan kuas imajinasiku untuk melukis apa yang tengah terjadi saat itu
Saat kau dan aku duduk bersila di kotak itu. Jutaan kata ribuan tawa ratusan airmata melebur melengkungkan pelangi kehidupan. Kita masih duduk menatap miliaran warna pelangi.
Kita saling beradu saat matahari dan hujan berkelakar, hingga pelangi itu tepat di langit-langit kotak. Dekat, sangat dekat.
Kau tunjuk satu warna untuk ku.
“Aku ingin warna ini akan menerangi malammu, agar kegelapan tak menghampirimu“. Kau tersenyum sambil mengusap keningku yang sedikit kebingungan.
Ku balas dengan senyuman yang berarti ucapan terima kasih. Walapun kau terlalu mengada-ada tapi warna itu jelas telah melahap akal sehatku. Akupun percaya jika warna itu akan selalu menerangi ku diantara kegelapan.
Aku menepis tangan mu.
“Kau tau, tak baik menunjuk pelangi nanti tangan mu akan bengkok“. Kata ku polos.
Kau tertawa simpul.
“Kau percaya?“
“Aku percaya.“
“Mulai detik ini jangan percaya."
"Dari kecil hingga sekarang aku percaya, dan aku tidak mau telunjukku bengkok." Bantah ku.
Kemudian kau menggenggam tangan ku yang tengah berayun di dahan lengan.
Kau lipat jari ku satu demi satu hingga yang tersisa hanya telunjuk.
"Ayo, sekarang tunjuklah warna yang kau mau untuk malamku." Bujukmu.
Aku memutar kepala 90 derajat tepat di batang hidung lancipmu.
Aku menggeleng.
"aku tak bisa."
"Kenapa? kau takut?"
"bukan..." kata ku terhenti ketika sebatang petir menyayat-nyayat lengkungan pelangi.
"Lalu apa?" Nada mu meninggi.
Aku bungkam. Hingga senja menepis terang. Matahari perlahan mundur di ufuk barat.
Aku masih bungkam. hingga kau lelah menunggu sebait kata.
Tatapanmu membuat keretakan di urat mata, Bulir-bulir kristal berjatuhan disela kelopak.
Kau beranjak dari kotak itu berlalu membawa sebuah ketidak pastian.dibenakmu tengah berayun sebuah tanda tanya.
aku masih duduk bersila seperti sedia kala menatap punggung mu yang terlihat semakin kecil hingga lenyap dalam arakan awan.
Kini malam menjelang. Aku masih duduk dikotak beratap kegelapan. Tak ada pelangi, tak ada kata, tawa bahkan airmata. Dan yang paling aku ingat, tak ada lagi sosok matahari ku.
Aku beku dilahap dinginnya malam. Tubuhku tak merasakan apapun. kecuali rasa rindu akan miliaran warna pelangi.
Pelangi yang terbentuk karena pertengkaran hujan dan matahari. aku adalah hujan yang kesepian, dan kau adalah matahari yang berdiri tegak mengisi separuh bumi.Aku tau tak mungkin rasanya kita akan melulu bertengkar, rasanya tak mungkin kita akan berada di medan yang sama.
***
Kau bisa saja merangkai pelangi dengan hujan di hari lain, minggu lain bahkan di windu lain atau hujan yang hadir setiap saat. Bila kau tak suka kau tak akan menghasilkan pelangi. Kau akan cari dan mencari hujan yang menghasilkan pelangi yang dapat membayangi setiap sudut waktu.
Dan aku.hanya salah satu hujan yang muncul di senja yang kelabu. Menghilang di kegelapan malam.
Sialnya aku hanya punya satu matahari. yaitu kau.
alunan nada terhenti, mengalihkan imajinasiku.ku tarik diri dari kotak hingga terpental keluar. Ku tutup kotak hampa.
Aku yakinkan pada diriku. bahwasanya ini hanya sebuah kotak bisu. Tak berarti apa-apa bukanlah apa-apa
Note : terinspirasi dari dari copeland (love affair) dengan lagu ini semua bermula dan berakhir di titik terbalik.
abaikan
Abaikan gelitikan cebong kecil yang mengitari kaki mu
Abaikan magnet dikutub berlawanan
Abaikan celoteh domba hitam
Abaikan awan yang pernah menghalangi hangatnya mentari
Abaikan bintang selatan yang menampakkan malam surammu
Abaikan lingkaran yang membelenggu sudut jiwamu
Abaikan kemelut yang mencengkram ragamu
Abaikan celotehan perkutut di sudut telingamu
Abaikan benalu yang menggerogoti lehermu
Abaikan tikaman duri mawar yang merobek empedumu
Abaikan pahitnya ceceran empedu
Abaikan lintah yang mengaduk-aduk lambungmu
Abaikan semua yang membuat kau tak bahagia
Pengabaian tidak selalu buruk
bukankah kebahagiaan suatu hak yang harus dimiliki
dan kepedihan itu sebagai kewajiban hingga terbentuknya kebahagiaan
# Abaikan keresahan ini .... biarkan ia berlalu bersama bulir-bulir gerimis
Senja ini....
Tetap gantung kan apel apel mimpi mu... di dahan yang kokoh. :)
percayalah suatu saat kau akan menikmati buahnya yang lezat :)
T_T
Dalam kelu ku bergetar
Ku gerakkan rongga berbalut lara
Menyebut asma-Mu
Ku hempaskan segala perih
ku enyahkan segala duka
Kutapaki jalan yang semakin berliku
Dalam denyut nadi ku genggam selalu mimpi
Ku rasakan detak anugerah-Mu
Dalam bulir kerinduan
ku ayun langkah kian ronta
seutuhnya untuk menggapai keridhoan-Mu
***
Note : # Sebuah harapan
a symphony
Ku telanjangi segala rasa,
hingga yang tersisa hanya kerinduan
rindu akan sepotong mozaik kehidupan
Dimana langit menganga menyambut indahnya hari
dedauanan kuning berjatuhan menerpa wajah yang berseri
Angin bertiup manja menggelitik pelepah hingga mengahasilkan sebuah nada
Dengan genit dedaunan muda membentuk tubuhnya seperti sebuah biola hingga terdengar nada harmonik ketika beradu dengan dawai angin
dawai angin seakan sangat lihai mengatur ritme, timbre dan nada menjadi sepadan
Burung pelatik menuip saxophone berwarna keemasan
Tupai-tupai gendut berjejer menyatukan gigi menjadi piano
jari lentik sang capung siap menekan tuts demi tuts
Matahari menyinari , Menerpa saxophone hingga memantulkan cahaya gemilau seperti lampu sorot ke arah ku
Awan awan berkumpul menyaksikan orkestra mewah ini
Ku mulai berdiri ditengah layaknya seorang komponis
Kesatuan mereka menghasilkan symphony yang menakjubkan
Gendang angkasa membahana menghasilkan nada sumbang
Merusak segala ritme, mengacaukan nada-nada yang telah terbentuk sempurna
Gumpalan awan menangis mengungkapkan kekecewaan
Menumpahkan bulir bulir sungai di sela kabut
Kini, yang terdengar hanya celotehan hujan dan makian petir
Aku... masih berdiri menatap langit yang dibalut awan hitam
Langit bungkam bersembunyi di balik awan hitam pekat
Mataku mulai mengempul tak jelas ini karena hujan atau airmata
never forget (ALLAH)
Tumpukan beberapa sinopsis telah menggumpal di benak. entah apa yang membuat mereka selalu tersendat disana. Menari-nari tampa dosa. membelit-belit saraf. tertawa simpul melihat aku yang tengah kebingungan menghadapi situasi ini. Seperti kuncup bunga yang tak jua kunjung merekah. Layaknya bayi yang enggan keluar dari rahim ibunya. Begitukah?ya begitu menderitanya aku dibuatnya.
optimisme timbul tenggelam dalam samudera nan penuh badai. Kerap aku ingin menyudahinya. Mencap diri sebagai pecundang . Pesimis mencak-mencak kegirangan. Musuh yang kini menjadi teman baikku dan selalu menggelantung tepat di nadiku. Ego dan ketakutan. Seakan keduanya berkongsi untuk menghancurkan sel-sel darah ku.
apa yang harus aku lakukan ?
Apa menyerah adalah kata penutup?
Hati kecil berbisik pelan. Entah apa yang ia ingin katakan pada ku. Suaranya begitu sayup terhalang sekelumit kerikil – kerikil kehidupan. Hingga gendang teling ku benar-benar tuli kini.
bisikan kalbu. Mengapa aku tak dapat mendengar ? Apa telingaku telah tersumbat dosa-dosa? Aku menyadari betapa hinanya aku.
Mungkin aku yang telah jauh dari mu TUHAN. Komunikasi ku sangat buruk, aku sering lupa mengerjakan kewajibanku. Tapi aku selalu menuntut hak ku. aku memang tak pantas mendapat keadilan.
maher zain - never forget
Every night and every day
Every night and every day
Never forget to say
La ilaha illa Allah
(Nothing worthy of worship except Allah)
When youre walking down the street
And you see the clouds in the sky
Praise Him and always repeat
The name of The Most High
And say with every heartbeat
La ilaha illa Allah
No matter where you are or what you do
Remember Allah is watching over you
Hes the Light of Heavens and Earth
Hes the first, and He is the last
Obey Him and always say
La ilaha illa Allah
leave me
Aku ingin berlari darinya. sungguh. aku ingin dia pergi dari hidupku. hatiku. pikiranku. denyut nadiku.
enyah dari aliran darahku. enyah lah. enyah!!!!
ingin aku berteriak. ku mohon. keluarlah dari raga ku.
jangan biarkan orang yang ku sayang membenci ku karena mu.
jangan biarkan lagi orang yang aku sayangi terluka karena mu.
tunjukkan wujudmu. hadapi aku.
akan ku remas mukamu. akan ku lumuri minyak tanah. dan ku bakar. lalu abunya akan ku hanyutkan ke samudera luas,
sungguh. aku benci diriku yang terus bersekutu denganmu.
diriku yang masih setia mengabdi padamu. apa aku akan terus terkubur bersamamu?
bocah kerdil
Langit beriak gelap
Gumpalan awan hitam menyeruak
Menyelimuti cahaya kristal
Angkasa mengaung
Memberi peringatan
Menukik kedaratan
Di pemukiman kumuh
pelantaran kali berwarna gelap
Tampak bocah kerdil keluar dari tumpukan kardus
Tempat dimana ia melepas kepenatan
Tangannya mengepal sesuatu
Tinggi benda itu hampir setara dengannya
Ia berlari kencang
Menyusup disela kardus-kardus
Sendal jepitnya menepak gaduh
Membuyarkan lamunan tikus kuyu
Induk ayam berbulu lusuh berkotek riuh memanggil anaknya
Bertanda sebentar lagi hujan turun
Kakinya terhenti dihalte dekat lampu merah
Percikan kilat disertai bunyi petir silih berganti
Baginya
Percikan kilat adalah kembang api dimalam takbiran
Dan ledakan petir adalah petasan menyambut pergantian tahun
Ia begitu gembira.
Terpancar dari bibirnya yang kian melengkung warna warni pelangi
Ia menatap ke langit
Menunggu bulir kesegaran akan membasuhkerongkongannya
Lambungnya bergoyang
mengusir kejenuhan menunggu beberapa butir nasi
Sedari pagi perut kempisnya tak tersentuh makanan apapun
Orang- yang lalu lalang kelabakan
Berlarian mencari tempat berteduh
Tangan sebesar lidi mengepakkan benda yang sedari tadi digenggamnya
Prak...
Benda kuncup kini mengembang senada dengan
Senyumnya yang makin merekah
Ditengah guyuran hujan
Ia menyuguhkan jasa pada khalayak
Setengah jam berlalu
Tak satupun orang menggunakan benda kuncupnya
Gigitan dingin menusuk pembuluh
Tubuhnya makin menciut
Bibir pucat pasi bergetar kedinginan
Lambungnya makin kalut
Meronta-ronta
Menginyam gulungan usus kisut
Perihnya tak terkira
Ia tak sedikitpun gentar
Dari sebrang jalan tampak
Seorang wanita muda berbalut seragam coklat melambaikan tangan kearahnya
Saat itu pula bocah kerdil berlarian mengijak genangan air yang mulai meluas
Ia tak pedulikan sekitarnya
Matanya tertuju pada wanita itu
Tubuh mungil itu
Menyusup disela kendaraan yang lalu lalang
Dan...
secepat kilat sebuah benda besi raksasa berlari kencang ke arahnya
sehelai kapas berbalut lumpur terhempas keujung jalan
Benda kuncup terombang-ambing diterpa angin
genangan hujan memekik histeris
darah segar larut dalam genangan
bau anyir menguap
disudut jalan tamapk seonggok daging sudah tak bernyawa
hujan reda
disela awan mengempul mozaik warna
indah tak terkira
kini bocah kerdil tengah menari disela mozaik
beayun-ayun di batang awan
Langit tertawa terpingkal melihat tingkahnya
Cahaya kristal berusaha menghangatkan tubuhnya
Senyumnya tetap merekah
Apapun yan terjadi ia akan tersenyum
***
kawand
kWanD.....
kAu Ad SaaT ku TrpRuk n Lemah...
kAu mndgar Ap yG taK Ku UngkApKn...
kAu dPt MliHat ap Yg KU bYangKan..
kaU mnerIma sMua Yg Ad Pa q...
kau tMpuhan wrna-Wrni Hdp Qu
Di Saat Ku KSAl.KCEWA.MARAH.SEDIH.BENCI.CMBURU.PATAH HATI.
kau ttp trsnyum n Sbar Mberi piTuah...
Di saat ku BAHGIA.TERTAWA.JTUH CNTA.
kau ttp tersnyum...
kAU ....
lOVE .....
DISTANCE CAN'T BE separate us.....4EvER.........
labyrinth of life part 1
Dalamsebuah kotak yang sesak,
manusiaberduyun-duyun untuk mengecup oksigen,
Akupunberkopetisi diantara mereka
mencari celah agar tetap bernafas,
Akhirnyaku temui sudut kiri. Ya..hanya itu yang masih tersisa,
Dalamkeramain aku merasakan sunyi, asing, jenuh, beku
Kau intip aku dalam kesendirian ku,
Kau tersenyum geli menahan tawa melihat tampang melas ku
Kau hamburkan keheningan ku
Tampa beban kau tanyakan hal yang tak logis menurut ku,
Oksigen yang menciut membuat aku malas mengangkat bibir
Aku masih hening
Bagi ku kau hanya semak yang menghalangi jalan ku
Kau tak jera
Kau ambil celah disudut kiri dengan alasan tak jelas
Tampa peduli ada aku yang semakin terpojok
Aku pun tak peduli
Tapi ada sesuatu seperti magnet menarik bola mata ku
melirik kearah benda persegi panjang penuh oretan tinta
yang kau keluarkan dari kantong doraemonmu
Pita suara ku bergetar
Terjadilah dialog tampa naskah
Keakraban bak sule dan taulani
Kebekuan mulai mencair menemukan titik hangat
Disini dikotak sesak ini kutemukan celah – celah kebahagiaan
Tampa ku sadari semua ini jebakan menuju sebuah labirin yang sangat rumit
Mampukah aku?
Bersambung.....
kotak sesak
HIDUP adalah pilihan
Kalimat klasik yang tak pernah pupus
Aku memilih berada di kotak sesak ini
Walaupun bukan keinginan ku tapi ini pilihan ku
yang telah TUHAN pilihkan untuk ku
” TUHAN tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi
TUHAN memberikan apa yang kita butuhkan“
(walaupun aku tak mengerti)
Dikotak sesak ini
aku merasakan
kehidupan yang sangat asing
mengecap apa yang tak pernah ku jilat
melahap apa yang tak pernah ku telan
mengendus apa yang tak pernah ku hirup
memandang apa yang tak pernah ku tatap
kata yang tak pernah ku ucap
Begitu tak biasa
perbedaan membuat aku berusaha keras
mengikuti aturan main di kotak ini
aPupun itu aku ikuti
benar atau salah ? tak bisa ku bedakan
semua samar – kabur lalu menjadi gelap gulita
Yang ku tau hanya ingin mendapat sedikit sudut
Tempat agar aku dapat menghirup oksigen yang tak seberapa
Tetap ku jalani hingga aku nyaris melupakan wujud diriku yang dulu
Siapa aku ? aku tak lagi mengenali diriku
Diripun menjadi hal yang asing
Kotak sesak telah merubah wujud ku
Kotak sesak telah merampas kebahagiaan ku
Dia merubah aku menjadi begitu lapuk,layu,
dia telah sediakan peti kematian untuk ku
aku semakin terjepit,
Kotak ini begitu kejam!!!!(lebih kejam dari ibu tiri)
berteriak tampa suara
menangis tampa air mata
melangkah tampa kaki
melayang tampa sayap
Aku pun mengadu pada TUHAN
Aku ceritakan semua yang telah ku alami
oHh.. TUHAN aku tlah buta (hati)
aku kehilangan pandangan (pedoman)
(tampa kau ceritakan pun DIA tau segalanya)
Aku berprasangka buruk pada TUHAN
Mengapa aku dipilihkan ke pilihan yang salah?
Mengapa aku harus terjun ke kotak yang penuh keresahan?
Aku tak mampu menjalani alur ini tak mampu!!
TUHAN keluarkan aku !!!
ingat
” TUHAN tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi
TUHAN memberikan apa yang kita butuhkan“
(masih tak mengerti)
Hidup tidak hanya pilihan tapi proses
Ini semua adalah proses
Agar kau mengerti segala sudut dalam kotak ini
Agar kau belajar bangkit dalam keterpurukan
Gunakan apa yang telah ALLAH titipkan padamu
Sesuai dengan kapasitas dan kegunaannya
Begini…
Selama ini kau hanya hidup dalam zone aman
Kau hanya menunggu, semua pun beres
Kau tak pernah kerahkan otak mu untuk berpikir menyelesaikan masalahmu
Kau mengumpat dalam setiap masalah
Kau tumpukan semua pada wanita yang tengah beranjak tua(ibu)
Kau tak gunakan tangan mu untuk lebih sigap
Kau tak gunakan seluruh jiwa mu untuk kehidupanmu
Kau tak gunakan kreativitas yang telah ALLAH berikan
SEKARANG KAU MENGERTI ?
Mengapa kau berada dikotak ini?
Kotak yang kau anggap begitu kejam
ternyata..
Kotak ini
kotak sesak ini
Mengajarkan mu akan arti kehidupan
Menuntunmu menuju kedewasaan
Memberikan warna pelangi hidup mu
Menyediakan peti kebahagiaan
Memberikan kelapangan dalam sesaknya
Mengajarkan mu menata hidupmu
Untuk menggunakan apa yang telah menjadi kebutuhan mu
Bukan keinginan mu
TUHAN ampuni aku telah berprasanka buruk pada-MU
kotak sesak maafkan aku telah juDge mu
Terima kasih
TUHAN...
Kotak sesak...
Dan habitat yang ada didalamnya...^_^
” TUHAN tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi
TUHAN memberikan apa yang kita butuhkan“
(Aku mengerti)
Aku bersyukur dengan semua ini
oase
Aku tengah berada sebuah gurun
Kering luas dan hampa
Anginpun seakan enggan singgah
Tatapan ku kosong
Mengerikan sekali
Aku makin tak berdaya
Tampa bekal yang cukup
Tampa ada sebuah kompas
Bagaimana bisa aku mengarungi gurun ini
dan menemukan jalan keluar
Dan pada akhirnya
Pasrah menunggu sang jibril
Memisahkan ruh dengan raga ku
Putus asa mulai menggerogoti
langkah ku yang kian goyah
Dalam penglihatan yang samar
Aku melihat kilauan bak berlian
Aku mendekatinya.
Benar dia begitu nyata
Siapa dia?
Malaikat kah?
Apa aku sudah mati?
Ia tersenyum ringan
Seakan berkata
Maukah kau melangkah bersama ku?
Aku hanya diam
Masih tak percaya
Akupun membalas dengan senyuman
Tanda menerima penawarannya
Tapi...
Siapa dia?
Kini aku tak sendiri
Dia penyejuk ditengah gersangnya hati ini
Dia bangkit kan semangat yang kian menyusut
Dia kumpulkan kepingan harapan
Bahwasanya aku akan bertahan hidup dan menemukan ujung dari gurun ini
Ia menuntun ku perlahan hingga aku tak merasakan ganasnya sang raja siang
Aku mulai menikmati perjalan ku
Siapa dia ?
Pertanyaan yang selalu ku bungkus rapat
Aku terus memandanginya
Dia seperti seorang pendongeng
dengan cuplikan kisah-kisah nyata
Betapa memilukan jalan yang telah ia lalui
Ternyata gurun ini taklah seberapa dibanding jalan yang pernah ia lalui
Akupun mencoba mengurai dengan segala hikmah
Menyimpulkan menjadi sebuah kekuatan
“Kau tak akan pernah tau apa yang akan terjadi sebelum kau mencoba
Ketakutan seperti hantu
tak berwujud tapi menyeramkan
Kau harus melawannya
Jangan biarkan kau mati dihantui ketakutan mu“
Tampa kusadari
Aku telah mengidolakannya
Dia Penikmat kesederhanaan
Dia figur yang membuat aku selalu berimajinasi
Dia bentangkan mozaik kehidupannya
Tampa setitikpun kepalsuan
Dengan lembut ia bedesis
“Berjanjilah akan mengarungi gurun ini“
Pancaran cahaya yang begitu dahsyat
Membuat bola mataku terbelalak
Aku pandangi sekeliling ku
Tak ada apa-apa
Kemana dia?
Aku mencoba memandangi sekitar ku
Tak juga ku temui
Hanya cahaya itu
Cahaya yang terus berkilauan nun jauh disana
Dikelilingi Kumpulan Berwarna hijau
Aku mendekat
Semakin dekat
Subhanallah
Pertanyaan ku terjawab sudah
Langkah ku semakin mantap
akan mengarungi gurun ini
apapun yang akan terjadi
akan ku penuhi janji ku pada nya
KAWAN2 tetap semgat ya dlm mggapai impian kalian..^^
kepompong
Di bawah terik sang surya
Dipohon yang mulai tandus
Dionggokan ranting kering
Disemak belukar
Disanalah aku bertengger
Menumpang agar aku tetap hidup
Dengan tubuh yang kecil dan lemah
Aku terus mencoba menapaki dedaunan yang masih hijau
Merayap perlahan
Burung-burung yang berkeliaran
membuat aku terpuruk kaku
Suaranya yang lengking
Membuat jantung ku seakan enggan berdenyut
Dengan lagak tampa dosa
Mereka merogoti dedaunan yang ada
Mematuk ranting tempat aku berpijak
Tertawa terbahak saat aku terbirit ketakutan
Tubuh ku bergetar dan geram
Ingin rasanya mencabik sayapnya
Tapi...
Aku hanya sebuah ulat yang lemah
Degan tubuh yang kian terombang ambing
serima dengan tarian ranting
Aku tak kuat …
Kapan mereka berenti memperolok ku
Hingga keajaiban TUHAN datang
Aku diketuk untuk melakukan rengkarnasi
Menjadi mahkluk yang lebih baik
Tapi tak seindah yang ku bayangkan
Aku... si ulat lemah
Makin kaku dibalut untaian benda berserat
Terkunci rapat , engap tampa rongga
Aku terlihat semakin lemah
Aku benar-benar sendirian
Dibungkus kesedihan yang mendalam
Hari ku kembali diusik
Aku mengintip disela pori
Para burung itu makin memperolok ku
Menertawai ku
Mengejek ku yang terlihat semakin lemah
Jangankan berlari untuk bergerak saja aku sulit
Kini aku pasrah
“Lihatlah diri mu semakin tak berbentuk
Hanya onggokan yang bergelantungan
dan sebentar lagi akan mati membusuk didalam sana“
lalu tertawa
tawa yang menggema ke angkasa
mencabik-cabik sulu hati
Mengepakkan sayap dan berlalu
Tak lama berselang
angin berhembus menguraikan pituah
Agar aku bersabar menunggu
Karena tak lama lagi aku akan terbebas
dari belenggu yang selama ini membuntuti ku
Aku akan terlahir sebagai mahkluk yang cantik
Dengan sayap yang indah berserta kolaborasi warna yang sepadan
Aku tak akan diperolok lagi oleh burung yang usil itu
Ya... walaupun kenyataannya
sekarang aku hanya gumpalan yang terbuang
Aku terlihat tak bernyawa
Aku yang tak berbentuk apa-apa
Tak berati apa-apa
Makluk lemah yang mencoba menjadi lebih baik
Dengan cara yang tak pernah diduga siapapun
Apapun yang dikatakan oleh pita-pita suara itu
Biar saja...
Kalian tak tau apa-apa
Aku percaya
Semua akan indah pada waktu nya









